0

Popsmile Podcast 30 (Quarter Life Crisis) ft. Kane

“Hidup itu seputar jatuh dan bangun” -Kane-

Hilang arah, mentok dan merasa sendiri adalah beberapa tanda yang umumnya terjadi pada manusia yang menginjak umur 25~35 tahun. Fenomena ini dinamakan Quarter Life Crisis. Saya membahas tema quarter life crisis dalam Popsmile Podcast bersama Candella Sardjito (Kane), seorang ibu dua anak yang telah mengalami salah satu fase penting dalam hidup di usia 25~35 tahun. Saya mengenal Kane untuk pertama kalinya dalam program 30 Hari Bercerita, dia adalah seorang pencerita dan juga admin di salah satu sesi dalam program tersebut. Saya senang membaca ceritanya karena ringan untuk dinikmati namun sarat akan makna, seperti salah satu tulisannya mengenai “bubur ayam”. Dalam tulisannya, Kane bercerita tentang percakapannya bersama suami mengenai bahan pendukung bubur ayam sehingga bisa lengket dan tidak cair.

” … itulah jadinya ketika dua orang sok tahu ketemu, saling jatuh cinta, menikah, dan membangun keluarga. Minim vetsin, nggak mudah encer, tapi lengket bener kaya lem.” -Kane-

Saya bertemu dengan @heykandela di kawasan Bintaro, selepas dia pulang kerja dan untuk kali pertama saya bertemu dengannya. Selain menjadi seorang ibu, Kane juga masih aktif bekerja dalam rangka memenuhi hasrat dirinya akan kegiatan diluar rumah. Selain bergabung bersama komunitas, bekerja adalah salah satu pintu yang membantu dirinya keluar dari fase quarter life crisis yang sempat membuatnya merasa kehilangan identitasnya sebagai seorang Kane yang dia kenal sendiri. Dalam salah satu ceritanya, Kane pernah membagi cerita terkait dirinya yang mencoba kembali meraih identitasnya yang sempat hilang selama kurang lebih tiga tahun.

…… Dengan titik didih ini, kami-kami, para penyintas, ingin kembali meraih identitas kami-kami lagi seperti saat kami-kami belum menapaki kelompok usia ini.

Kami-kami ini–salah satunya saya–ingin memperkenalkan diri dengan nama kami sendiri.

Seperti saya, yang akan berkata :

“Hai, saya Candella. 
Seorang kolektor memori. 
Seorang penggemar euforia. 
Dan tentunya, 
seorang perempuan, 
yang punya identitasnya sendiri.”


Salam kenal! 😊     

 

—tulisan @heykandela dalam program @30haribercerita

Sebelum sesi podcast dimulai, saya ngobrol tentang hal – hal yang membawa dirinya terjun kedalam komunitas dan hobi yang disenanginya. Musik yang biasa didengarkannya didapat dari eksplorasi toko musik dan juga playlist temannya kala itu. Playlist Kane beragam, namun yang pasti harus ada lagu bernuansa Gloomy didalamnya. Kane juga bercerita tentang kehidupan pernikahan yang sedang dijalaninya, lengkap dengan tips menghadapi masalah yang sering muncul dalam sebuah pernikahan. Saat rekaman sesi podcast, saya bertanya tentang “tips melewati quarter life crisis dan bagaimana cara Kane mengajarkan quarter life crisis kepada anaknya?” Temukan jawaban Kane dalam sesi Popsmile Podcast 30 (Quarter Life Crisis) ft. Kane

—————————————————————————————————————————————————————

Dalam sesi podcast kali ini, kamu juga bisa mendengarkan Pet Shop Boys – Se A Vida E (That’s The Way Life Is) yang menjadi favorit Kane karena sesuai dengan tema bahasan kali ini. Yuk dengerin langsung via soundcloud (klik icon dibawah ini).

if_soundcloud_173910

Atau bisa didengarkan dengan cara mencari ‘Popsmile Podcast’ di beberapa platform podcast pilihan kamu

pod

Data Teknis Popsmile Podcast 30

Alat Perekam : Samsung A6+ (2018) – Aplikasi Bawaan

Micropohone : Clip On + Rode SC6 Dual Input Microphone

Metode Rekaman : Potongan Satu Segmen – Musik dimasukkan di akhir rekaman suara

Tempat : Sehidup Sekopi, Tangerang

Software : Adobe Audition

Iklan
0

Popsmile Podcast 29 (Discover Yourself Through Zine) ft. Autonica

 

“Your zine will guide you discover yourself” -Annisa Rizkiana.

Awal perkenalanku dengan Autonica (Annisa Rizkiana) dimulai ketika seorang teman berkirim kartupos mengirimkan kartupos karya Autonica yang dibelinya di Makers Market. Dia menceritakan sedikit tentang gaya menggambar yang ada dalam kartupos tersebut dan meminta saya untuk mengunjungi akun instagram @autonica . Saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut setelah menerima kartupos tersebut dengan mengunjungi akun instagramnya. Saya banyak melihat banyak ilustrasi dan komik, serta mengamati gaya menggambarnya. Dari pengamatan awal tersebut, saya merasa ingin bertemu dengan Annisa Rizkiana suatu hari nanti. Saya belum tahu akan bertemu dalam kesempatan apa dan dengan cara apa, namun yang pasti saya bertekad untuk bertemu dengannya karena saya mengagumi karyanya yang jujur dan apa adanya.

Kartupos karya Autonica yang saya terima

Berbicara tentang Nisa, yang terbayang dalam benak saya adalah komik empat panel, ilustrasi, anak kecil dan zine. Mari saya tunjukkan kenapa hal tersebut bisa muncul dalam benak saya. Pertama komik empat panel adalah salah satu karya yang saya sukai dari Nisa. Lewat komik empat panel, Nisa bisa menyampaikan pesan tepat sasaran tanpa harus memperbanyak jumlah halaman atau kata, namun pesan tetap dapat tersampaikan dan dapat diterima baik bagi yang menerimanya. Karya yang sejauh ini paling meninggalkan kesan bagi saya adalah komik empat strip berjudul You.

source : instagram.com/autonica

Kedua, ilustrasi yang dia buat punya gaya khas, gaya menggambar anak – anak, namun dengan bentuk yang lebih tegas. Saya rasa dengan kesengajaan untuk mengikuti style ini akan cukup sulit, karena gaya menggambar ini hadir secara alami, Nisa ingin mengedepankan pesan yang disampaikannya.

source : instagram.com/autonica

Ketiga, anak kecil sering muncul dalam gambar – gambar Nisa. Hal ini dikarenakan Nisa memang mengakui kalau anak kecil berlarian adalah salah satu hal magical yang dia rasa, sehingga dia mengabadikan dalam berbagai gambarnya.

source : instagram.com/autonica

Terakhir, zine adalah hal yang saya deskripsikan setelah menyimak Nisa untuk beberapa waktu. Nisa menghimpun semua karya dia dalam sebuah zine. Ada zine yang dijual, ditukar ataupun diberikan. Salahsatu zine yang pernah saya beli adalah Au Revoir #6 Soft Bunnies Zine. Sebagian kecil isinya adalah karya yang pernah dibagi lewat instagram, sebagian besar lainnya adalah karya yang memang hanya dibagi lewat medium Zine. Selain itu, Nisa juga mengarsipkan karyanya lewat molekulikan.com 

dokumentasi pribadi

Tanggal 4 Februari kemarin, saya senang sekali karena mendapat kesempatan untuk bertemu dan berkolaborasi bersama Nica dalam Popsmile Podcast. Salah satu impian yang sudah dicanangkan semenjak pertama kali menerima karyanya, akhirnya bisa terwujud. Sempat ada keraguan untuk mengirimkan pesan kalau saya sedang berada di Jogja dan ingin bertemu untuk membuat podcast bareng. Namun, akhirnya saya beranikan diri dan ternyata mendapat respon baik berupa persetujuan untuk melakukan kolaborasi. Berbagi cerita tentang Zine adalah satu episode yang paling berkesan untuk saya, karena banyak hal yang rasanya seperti mimpi tapi kenyataan.

Sesi podcast dilakukan di kawasan Jogja, di sekitar sawah. Gemercik air yang jatuh menemani sesi rekaman kami karena baru saja hujan reda. Sebelum sesi rekaman podcast, kami sedikit mengobrol di salah satu tempat makan di daerah sana karena Nisa memang sedang makan disana dan saya ingin secangkir kopi untuk menemani sore di Jogja. Sesi rekaman podcast dilakukan di sawah, karena saat itu rumah makannya tengah mengadakan acara dengan panggung yang cukup besar, sehingga kami harus berpindah ke tempat yang lebih sunyi untuk merekam podcast. Sebelum sesi rekaman podcast dimulai, kami bertemu dengan satu anjing yang ada di dalam kandang. Nisa mencoba berinteraksi bersama anjing itu. Nampaknya anjing tersebut memang butuh perhatian, itu terbukti ketika Nisa mengulurkan tangannya, lantas anjing tersebut merespon dengan menutup matanya sambil menggosokkan kepalanya pada tangan Nisa. Selanjutnya Nisa mencari info tentang anjing itu pada orang yang ada di sekitarnya dan mendapat info bahwa anjing itu memang biasa ditempatkan disana oleh pemiliknya. Dengan informasi tersebut, Nisa akan melakukan follow up untuk anjing tersebut di kemudian hari.

Oh iya, selesai rekaman podcast, ada pelangi muncul. Diameternya sangat besar dan kamerapun tidak sanggup untuk menangkap keseluruhannya. Saya pikir itu adalah salah satu hal yang jarang terjadi dan magical banget rasanya bisa terjadi saat itu.

Terimakasih Nisa, sudah memberikan kesempatan untuk berbagi cerita. Saya belum sempat bertanya tentang pameran Mak Orang Utan yang pernah kamu buat. Sampai berjumpa di kesempatan berikutnya.

—————————————————————————————————————————————————————

 

Dalam sesi podcast kali ini, kamu juga bisa mendengarkan Clairo – Flamin’ Hot Cheetos yang menjadi favorit Nisa saat ini. Yuk dengerin langsung via soundcloud (klik icon dibawah ini).

if_soundcloud_173910

Atau bisa didengarkan dengan cara mencari ‘Popsmile Podcast’ di beberapa platform podcast pilihan kamu

pod

Data Teknis Popsmile Podcast 29

Alat Perekam : Samsung A6+ (2018) – Aplikasi Bawaan

Micropohone : Clip On + Rode SC6 Dual Input Microphone

Metode Rekaman : Potongan Satu Segmen – Musik dimasukkan di akhir rekaman suara

Tempat : Sawah sekitar Sleman, Yogyakarta

Software : Adobe Audition

0

Cerita Dibalik Popsmile Podcast 14 (Mas Mas Mellow: Daily Mellow Drawing)

Dandelion-01

Aku harus menyalurkan hal – hal sentimental yang terasa lebih kuat akhir – akhir ini, kedalam bentuk yang konkret. Layaknya gembira, kesedihan pun perlu mendapat satu tempat khusus. Terinspirasi dari tiga sosok, Citra Marina, Annica Rizkiana & Amy Winehouse, lahirlah sebuah karakter Mas Mas Mellow yang menyalurkan kesedihan atau kekecewaan dalam bentuk yang konkret.

Aku menggambar Mas Mas Mellow dalam catatan harian dengan marker hijau dan merah. Gaya menggambar ini terinspirasi dari Choo Choo, karakter yang diciptakan oleh Citra Marina di buku You’re Not As Alone As You Think.

Choo Choo membawa sesuatu yang segar, dia seolah mewakili banyak suara yang tak terdengar karena kebanyakan mereka berteriak di dalam hati dan kepala saja. Dengan waktu cepat, Choo Choo menjadi sahabat para introvert karena konten yang dibagikan relate dengan apa yang mereka rasakan.

IMG_3051

Selain Citra Marina, Annica Rizkiana (Nica) adalah salah satu yang menginspirasiku. Karya kak Nica terasa sangat jujur dan mendalam. Secara garis besar, karyanya bercerita tentang isu depresi. Dibalik gambar – gambarnya yang lucu, ada kalimat – kalimat yang menggambarkan sesuatu yang ingin digapai, namun mengandung kesedihan yang tersirat. Aku bisa merasakan emosi yang disampaikan kak Nica lewat karyanya, terlebih dia memang menceritakan tentang pengalamannya secara gamblang.

Komik empat panel biasanya menjadi medium kak Nica untuk bercerita. Tinta hitam dengan latar putih seolah menambah kontras emosi dalam karya – karyanya.

IMG_3049

Salah satu bagian yang menarik di Au Revoir #6 Soft Bunnies Zine ini adalah rubrik Journal yang menampilkan dirinya bersama barang – barang diatas meja kerjanya yang besar. Dia bercerita kalau dirinya baru bisa bekerja ketika sendirian, hal itu berkaitan dengan riwayat depresinya yang diceritakan dalam halaman tersebut.

IMG_3048

Sosok terakhir yang menginspirasi Mas Mas Mellow adalah Amy Winehouse. Lirik yang tercipta dari dirinya begitu jujur dan apa adanya, dalam konteks yang baik. Aku tahu Amy bergelut dengan dirinya sendiri selama bertahun – tahun sampai akhirnya bergabung dengan 27 Club. Salah satu lirik dan musik dengan emosi terkuat menurutku adalah Love Is A Losing Game. Secara penulisan sangat rapi dan memiliki rima, secara musik terasa sangat sendu. I love this song so much.

For you I was the flame
Love is a losing game
Five story fire as you came
Love is losing game
One I wished, I never played
Oh, what a mess we made
And now the final frame
Love is a losing game
Played out by the band
Love is a losing hand
More than I could stand
Love is a losing hand
Self-professed profound
Till the chips were down
Know you’re a gambling man
Love is a losing hand
Though I battled blind
Love is a fate resigned
Memories mar my mind
Love is a fate resigned
Over futile odds
And laughed at by the gods
And now the final frame
Love is a losing game

credit to : petercruise (https://www.flickr.com/photos/36292117@N00/512846229/in/album-72157600263012218/)

Dari ketiga sosok tersebut, aku belajar bahwa karya yang mereka ciptakan terasa sangat jujur, sehingga mampu mewakili perasaan orang – orang yang sama – sama merasakan hal tersebut. Penyataan Choo Choo bahwa ‘You’re Not as alone as You Think’ menjadi sangat relevan bagi yang merasakan. Terimakasih Citra Marina, Annica Rizkiana & Amy Winehouse. Semoga Mas Mas Mellow ini bisa mewakili perasaan juga, setidaknya bagi saya, juga kamu jika berkenan.

Dengerin podcast episode ini via soundcloud ya (klik icon dibawah ini). Ada lagu Sampai Jadi Debu dari Banda Neira yang bisa kamu dengarkan juga dalam podcast kali ini.

if_soundcloud_173910

via soundcloud

Atau bisa didengarkan dengan cara mencari ‘Popsmile Podcast’ di beberapa platform podcast pilihan kamu

pod

Data Teknis Popsmile Podcast 14

Alat Perekam : Samsung A6+ (2018) – Aplikasi Bawaan

Micropohone : Clip On + Rode SC6 Dual Input Microphone

Metode Rekaman : Potongan Satu Segmen – Musik dimasukkan di akhir rekaman suara

Tempat : Kosan Bekasi

Software : Adobe Audition

0

Cerita Dibalik Popsmile Podcast 12 (Dandelion Bantar Gebang) ft. Mya

Dandelion-01

“Tebar ilmu dan kebaikan, petik cinta dan kebahagiaan.” -Dandelion Bantar Gebang.

Awal perkenalanku dengan Dandelion Bantar Gebang berasal dari postingan di akun Annica Rizkiana (@autonica). Saat itu kak Nica membagi informasi rekrutmen volunteer untuk komunitas ini. Sedikit kepo, ternyata ini adalah komunitas berbagi pengalaman bersama anak – anak yang ada di TPST Bantar Gebang Bekasi yang bergerak di bidang pendidikan. Saat itu aku memang sedang mencari kegiatan akhir pekan yang lebih produktif di area Bekasi, maka bergabunglah dengan mendaftarkan diri. Tak menyangka, saya dengan non pengalaman kegiatan relawan, bisa diajak bergabung dalam komunitas ini. Seiring berjalannya waktu, aku penasaran dengan seluk beluk Dandelion Bantar Gebang dan aku ingin langsung mendengar dari pendirinya. Gayung bersambut, Pranamya Dewati (Mya) mau diajak untuk menceritakan dirinya bersama Dandelion Bantar Gebang.

IMG_0305

Kak Mya, saat kegiatan Dandelion Berbagi untuk Lombok.

Aku sempat membayangkan pengajaran dilakukan di tengah timbunan sampah. Ternyata tidak, setelah langsung berkunjung kesana untuk kali pertama, pengajaran dilakukan di pemukiman warga dan terpisah dengan kegiatan pengolahan sampah di TPST Bantar Gebang. Kegiatan Dandelion saat ini, diadakan setiap hari minggu siang. Mya bercerita tentang kondisi anak – anak disana saat dirinya menjumpai mereka. Saking jarangnya bertemu dengan dunia luar, awalnya mereka agak kurang percaya diri untuk berkomunikasi dengan orang baru. Dengan hal itu, kak Mya mencoba untuk membawa hak – hak anak ke dalam lingkup anak – anak yang berada disana. Ada beberapa metode pengajaran yang dibagi setiap minggunya– calistung, sejarah, seni, story telling, dan games edukatif. Sedikit banyak, kak Mya mulai merasakan perubahan yang positif dari anak – anak Dandelion Bantar Gebang. Mereka mulai lebih percaya diri dan berani berekspresi.

IMG_1085

Kak Mya saat melakukan pengajran lewat metode story telling.

Bagai Dandelion yang tertiup angin lalu terbang ke suatu tempat, Kak Mya berharap semangat berbagi Dandelion bisa menular dan tumbuh dimana saja. Kamu bisa mengenal kak Mya bersama kegiatannya di akun @dparanamya.

Mari bergabung bersama @new.dandelionbantargebang untuk berbagi bersama anak – anak yang ada di TPST Bantar Gebang.

dandeu

IG : @new.dandelionbantargebang

Satu lagu Hai Teman – Monita Tahalea dari album Dandelion bisa kamu dengarkan juga dalam sesi podcast kali ini. Yuk dengerin langsung via soundcloud (klik icon dibawah ini).

if_soundcloud_173910

via soundcloud

Atau bisa didengarkan dengan cara mencari ‘Popsmile Podcast’ di beberapa platform podcast pilihan kamu

pod

Data Teknis Popsmile Podcast 12

Alat Perekam : Samsung A6+ (2018) – Aplikasi Bawaan

Micropohone : Clip On + Rode SC6 Dual Input Microphone

Metode Rekaman : Potongan Satu Segmen – Musik dimasukkan di akhir rekaman suara

Tempat : Dandelion Bantar Gebang Bekasi

Software : Adobe Audition

Dandelion1-01

0

Cerita Dibalik Popsmile Podcast 13 (Navigasi Coffee) ft. Dani & Aji

navigasi-01

Selama aku tinggal di Bekasi, aku belum menemukan tempat ngopi yang cocok secara suasana dan kopinya itu sendiri. Temanku merekomendasikan satu tempat ngopi yang ada di kampusnya. Lokasinya ada di jalan kalimalang kawasan cibatu cikarang, persis setelah kolong jembatan layang jika kamu datang dari arah bekasi. Navigasi coffee namanya.

IMG_1156

Saat pertamakali datang, saya agak canggung karena saya belum mengenal mereka, sedangkan teman saya sudah mengenal mereka karena sering berkunjung kesana. Aku memesan cappuccino saat itu, Aji dan Dani yang meracik kopinya. Mereka ‘bro banget’ terhadap siapapun yang datang ke kedai kopi mereka. Dari sana, aku mulai tertarik untuk ngobrol dan merekamnya dalam Popsmile Podcast.

IMG_1185

Aku datang kesana kali kedua dalam rangka merekam podcast bersama Aji & Dani. Waktunya cukul dadakan, saat itu temanku bilang bahwa dia sudah menyampaikan maksudku untuk membuat podcast bersama mereka. Aku menunggu sampai agak malam sampai pengunjung sepi agar mereka tidak terganggu dengan sesi rekamannya. Dalam podcast, mereka bercerita tentang sejarah, filosofi nama Navigasi dan juga tujuan mereka membuka kedai disana.

IMG_1170

Setelah sesi rekaman selesai, mereka nyanyi – nyanyi bareng sama temen – temen yang masih ada disana sampai kedainya tutup.

IMG_1193

a

Ada lagu Filosofi Logika juga yang kamu bisa dengarkan di sesi podcast kali ini. Selamat mendengarkan.

if_soundcloud_173910

via soundcloud

Atau bisa didengarkan dengan cara mencari ‘Popsmile Podcast’ di beberapa platform podcast pilihan kamu

pod

Data Teknis Popsmile Podcast 13

Alat Perekam : Samsung A6+ (2018) – Aplikasi Bawaan

Micropohone : Clip On + Rode SC6 Dual Input Microphone

Metode Rekaman : Potongan Satu Segmen – Musik dimasukkan di akhir rekaman suara

Tempat : Navigasi Coffee Cikarang

Software : Adobe Audition

navigasi1-01

1

Cerita Dibalik Popsmile Podcast 11 (Jalan Hore Bandung) ft. Fasya

fasya-01

“Makasih gan informasinya,” komentarku dalam salah satu postingan blog Fasya Aulia.

Saya mengenal Fasya dari postingan blog http://www.fasyaulia.wordpress.com soal review salah satu cafe yang ada di Bandung. Saat itu saya sedang mencari temapat nongkrong yang cocok untuk budget anak kuliahan. Saya kagum dengan Fasya karena ada seseorang yang mau menuliskan review tempat – tempat nongkrong di Bandung oleh orang Bandung itu sendiri. Dari sana, pertemanan kami berlanjut ke instagram dengan saling mengikuti akun masing – masing.

20180819_154254A

Fasya Aulia

Feed instagram @fasyaulia ini rapi banget menurutku, tone-nya bikin adem mata dengan dominasi warna biru di beberapa postingannya.

Fasya menuliskan Bandung, cerita, ulasan makanan, ulasan musik dan hal lainnya. Cara menulis Fasya cukup unik menurutku. Di beberapa postingan, saya memperhatikan suka ada kalimat – kalimat menggelitik yang tau – tau muncul. Entah itu di awal tulisan, pertengahan ataupun akhir tulisan. Contohnya seperti ini :

Hari ini kerjaan lagi super santai, like a boss, padahal…MANA ADA BOS SANTAI-SANTAI WOY ELAH SUKA NGARANG AJA.

(dikutip dari https://fasyaulia.com/manfaat-ngeblog-versi-fasya/)

Fenomena menarik lainnya adalah, blog Fasya ramai akan pengunjung dan komentar. Entah itu ketika masih fasyaulia.wordpress.com, fasyaulia.com ataupun rumah paling barunya saat ini blogfsy.wordpress.com. Saya berasumsi kalau hal itu terjadi karena Fasya rajin berkunjung ke blog teman – teman lainnya, serta meninggalkan komentar atau like di postingan yang dia kunjungi. Selain itu dia memang termasuk orang yang ramah. Saya bisa bilang kalau Fasya ini blogger kesayangan teman – temannya.

Saat ini Fasya mempunyai project Jalan Hore Bandung bersama dua kawannya-Anggietta & Ardizza. Jalan Hore Bandung adalah rebranding dari Fasya & Friends yang merupakan cikal bakal terbentuk formasi saat ini. Sebagian besar tulisan di jalanhorebandung.com merupakan tulisan – tulisan tentang Bandung. Fasya bercerita kalau dia harus mengabadikan sebagian momen yang dirasakannya di Bandung. Hal itu terpikir karena semua teman yang berkunjung selalu berkata kalau Bandung itu ngangenin, mereka ingin tinggal berlama – lama andai saja tak punya urusan lain di kota masing – masing. Jalan Hore Bandung mempunyai empat kategori untuk tulisan – tulisannya, yaitu : Wisata, Kuliner, Event dan Jalan-in dulu aja (really? nyeredet banget haha). Fasya menuturkan dalam sesi rekaman podcast, kalau Jalan Hore Bandung ini adalah rumah bagi tulisan mereka bertiga. Baik buruknya tulisan, ya itu tulisan mereka.

Bagi Fasya, Bandung itu segalanya–tempat pulang, rumah, teman dan keluarga. Bandung selalu punya kejutan dengan caranya tersendiri.

Dalam sesi podcast kali ini, saya memilihkan lagu Puncak Pohon Bandung dari Dhirabongs yang cukup mewakili suasana Bandung lewat musik dan liriknya. Yuks dengerin langsung podcastnya 🙂

if_soundcloud_173910

via soundcloud

Atau bisa didengarkan dengan cara mencari ‘Popsmile Podcast’ di beberapa platform podcast pilihan kamu

pod

Data Teknis Popsmile Podcast 11

Alat Perekam : Samsung A6+ (2018) – Aplikasi Bawaan

Micropohone : Clip On + Rode SC6 Dual Input Microphone

Metode Rekaman : Potongan Satu Segmen – Musik dimasukkan di akhir rekaman suara

Tempat : Kamar Tujuh Koffie Bandung

Software : Adobe Audition

fasya1-01

0

Cerita Dibalik Popsmile Podcast 10 (Silent Comic Bandoeng Tempo Doele) ft. Alis

alis-01

“Gimana sih cara buat menemukan style pribadi dalam menggambar?”

Satu pertanyaan diatas sering sekali saya dengar dari audience yang hadir dalam sesi tanya jawab tentang desain grafis dan ilustrasi dalam sebuah podcast yang dibawakan R.Hakim. Saya sendiri pun sering bertanya – tanya bagaimana caranya untuk menemukan style yang bisa menjadi ciri khas seseorang?

Jawaban dari pertanyaan itu bisa saya temukan dalam ilustrasi yang dibuat oleh Tsalitsa Kamila (Alis). Saya mengenal Alis dari seorang teman kuliah yang merupakan kakanya sendiri. Gambar yang dibuat Alis di DeviantArt membuat saya kagum dan mulai menyimak gambar – gambarnya. Disana dia sering membuat fan art, doodling dan juga karakter dengan suasana tertentu.

autumn_by_tsalitsa-d7o0efg

a landscape from (500)days of summer movie. water color+drawing pen on paper. Sumber : https://www.deviantart.com/tsalitsa

Beberapa waktu yang lalu, Alis merilis art print berbentuk postcard tentang “Bandoeng Tempo Doeloe”. Ada dua set postcard dalam seri ini, seri Surya dan seri Senja. Postcard yang dibuat menunjukan ilustrasi kota Bandung di akhir 1930an. Seluruh gambar dari seri kartupos ini diambil dari tugas akhir yang dikerjakannya.  Kegemarannya akan sejarah dan kota Bandung membuat Alis tergerak untuk mengerjakan tugas akhir dengan tema kota Bandung yang diberi judul “Baraga”.

IMG-20180818-WA00291

Sumber : dokumentasi @tsalitsak

Dari postcard dan tugas akhir yang dikerjakannya, saya penasaran tentang proses kreatif dan cerita dibalik karya tersebut. Beberapa waktu setelah postcard saya terima, saya mencoba untuk memberanikan diri mengajak Alis untuk berbagi dalam sesi Popsmile Podcast yang saya buat. Dalam sesi podcast, Alis bercerita tentang sejarah yang ingin dia bagi dalam bentuk yang lebih mudah dipahami–yakni ilustrasi.  ‘Baraga’ menceritakan tentang seseorang yang berkunjung ke kota Bandung dan secara tidak sadar kembali ke masa lampau lewat kereta yang ditumpanginya. Secara tersirat, Alis menunjukan bangunan – bangunan tempo doeloe dari tempat – tempat yang Baraga lewati.

IMG-20180818-WA00141

Sumber : dokumentasi @tsalitsak

Saya berkesempatan untuk melihat secara saksama karya Baraga dari Alis, dengan mata kepala saya sendiri. Saya menangkap sesuatu yang coba Alis sampaikan lewat ilustrasi tanpa teks atau ‘Silent Comic’ yang dia buat. Gambarnya memiliki kekuatan dari suasana yang dibangun, goresan garis dan juga warna yang dipilih. Alis punya ciri khas tersendiri untuk ilustrasi yang dia buat. Saya juga jadi mengerti kalau ‘style’ menggambar hanya bisa didapatkan lewat latihan dan kerja keras yang dilakukan secara terus menerus. Sekarang, saya cukup bisa mengenal gambar Alis hanya dengan melihat gambarnya saja.

IMG-20180818-WA0026

Giniris. OC from @tsalitsak

Alis sering mendengarkan musik instrumental saat sedang menggambar. Dalam sesi podcast kali ini, Alis memilihkan musik instrumental dari Explosion In The Sky – Postcard From 1952 dan Joe Hisaishi – The Promise of the World (Symphonic Winds) untuk didengarkan diela – sela obrolan.  Sebagai lagu penutup, saya memilihkan lagu Sigur Ros – Staralfur. Yuk langsung dengerin sesi ngobrol santai kami berdua.

if_soundcloud_173910

via soundcloud

Atau bisa didengarkan dengan cara mencari ‘Popsmile Podcast’ di beberapa platform podcast pilihan kamu

pod

Data Teknis Popsmile Podcast 10

Alat Perekam : Samsung A6+ (2018) – Aplikasi Bawaan

Micropohone : Clip On + Rode SC6 Dual Input Microphone

Metode Rekaman : Potongan Tiga Segmen – Musik dimasukkan diantara rekaman suara

Tempat : Giggle Box Bandung

Software : Adobe Audition

alis2-01