Dia adalah pusaka sejuta umat manusia yang ada di seluruh dunia

Duaaarrrrr, wusssshhhh, ssssshhhhhhhhh

Awan hitam masih menggulung di angkasa. Kucuran hujan tak henti – hentinya turun dari langit. Suara petir yang memekikan telinga. Kilatan cahaya yang membuat kita terkejut. Sampai kapankah ini akan terjadi ? Takkan pernah ada yang tau sampai kapan, mungkin sampai manusia mengubah cara mereka berteman dengan alam.

Sering dari mereka yang selalu berkata “Kami rindu Nona Cerah yang selalu menyapa di pagi hari, tapi kenapa setiap sore selalu datang Tuan Hujan bersama kedua rekannya, Si Petir & Si Kilat. Kali ini mereka datang membawa kemarahan”.

Gravitasi menyebabkan air berkumpul di tempat yang lebih rendah. Jalanan kini berubah menjadi genangan air hasil dari limpahan hujan yang mendarat lebih awal di tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Rasanya susah sekali untuk berjalan di dalam genangan air tersebut di karenakan beratnya langkah kaki yang tertahan oleh air. Lagi – lagi keluhan keluar dari mulut seorang ‘manusia’ : “Kenapa sih jalanan jadi becek gini, banjir dimana – mana, kalo gini kan gue jadi susah buat pergi kemana – mana!”

Manusia gak berhak buat nyalahin keadaan yang terjadi saat ini.  Yang berhak untuk marah dalam hal ini adalah alam.  Alam berhak marah terhadap manusia atas apa yang mereka telah perbuat kepadanya. Manusia kini tak pernah peduli lagi dengan alamnya. Mereka tidak pernah berpikir jika membuang sampah sembarangan, akan mengakibatkan saluran air tersendat sehingga mengakibatkan banjir dimana – mana.

Resapan air semakin berkurang seiring dengan berkurangnya jumlah pohon yang ada di perkotaan. Jumlah pohon yang ada di perkotaan mungkin sudah bisa di perkirakan. Jumlahnya tidak akan lebih banyak dari pada penghuninya. Pohon-pohon yang dulu hijau kini telah berubah menjadi batu. Bangunan tinggi besar menjulang mendominasi perkotaan. Tengoklah kiri dan kanan sudah banyak gedung yang tinggi menjulang. Akan lebih cepat mendirikan sebuah bangunan di bandingkan menanam sebatang pohon untuk kesejahteraan di masa mendatang. Kenapa ? Anda sendiri pasti sudah tahu jawabannya.

Sehingga muncul sebuah pertanyaan. Apakah alam yang tidak bersahabat dengan kita ataukah kita yang tidak bersahabat dengan alam ? Mungkin kita yang kurang bisa bersahabat dengan alam. Kita masih membuang sampah sembarangan, belum bisa menjaga kebersihan sungai kita, belum bisa menjaga lingkungan kita dari ancaman tumpukan sampah yang menggunung sehingga mengakibatkan banjir dimana – mana. Jika kita bisa bersahabat baik dengan alam, maka alam pun akan bersahabat baik dengan kita. Maka dari itu, mulai dari sekarang kita harus bisa bersahabat baik dengan alam. Agar semuanya kembali seperti sedia kala. Mulailah membuang sampah pada tempatnya. Menanam satu pohon setiap harinya untuk kehidupan yang lebih baik. Mari kita bersahabat dengan alam.

Naif – Dia adalah pusaka sejuta umat manusia yang ada di seluruh dunia

Manusia berkembang menurut perkembangan jaman yang ada

Tengoklah kiri dan kanan sudah banyak gedung yang tinggi menjulang

Pohon-pohon yang dulu hijau kini telah berubah menjadi batu

Kurasa manusia kini tak pernah peduli lagi dengan alamnya

Dia adalah pusaka sejuta umat manusia yang ada di seluruh dunia

Langit biru cerah tak mungkin lagi terlihat bersih dan ceria

Pelangi yang berwarna-warni warnanya semakin tak menentu

Bunga-bunga yang indah tak pernah semerbak lagi seperti dulu

Udara segar yang dulu adakini tak pernah lagi kurasakan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s