0

Dua Sejoli Podluck Podcast

Dua sejoli adalah sepasang suami istri yang hobi mengoleksi piringan hitam. Intan @badutromantis_ & Aria @timestopper membawakan obrolan santai ngalor ngidul dengan tema – tema gemas sambil memutar lagu dari piringan favorit mereka.

Sumber : instagram.com/dua_sejoli

Episode pertama mereka diisi dengan perkenalan tentang latar belakang masing – masing yang akhirnya bisa menyatukan mereka. Obrolan asik ini terasa seperti ruang cerita antar sahabat, karena mereka bercerita secara jujur dan terbuka.

Saya tahu Intan ketika dia menggarap projek Sahabat Lokananta bersama White Shoes & The Couples Company. Dari sana, saya bisa melihat bahwa Intan memang punya ketertarikan khusus terhadap musik, khususnya musik Indonesia. Bersama Aria, Intan menggarap toko rilisan fisik bernama substore yang tersebar di beberapa kota, salah satunya yang ada di Jakarta.

Di episode yang ke tiga, Dua Sejoli membahas tema musik dan makanan. Dalam satu masa, banyak musisi yang menulis lagu tentang makanan. Lagu yang memang liriknya tentang makanan, seperti Soto Mie dari Sjaiful Nawas dan Nurseha serta dua lagu lainnya.

Saya senang ada mereka berdua yang membahas musik dari beberapa generasi. Menyerahkan tongkat estafet dari generasi terdahulu, generasi mereka berdua kepada generasi saat ini. Good luck Dua Sejoli, saya selalu menanti podcast kalian berdua. Sukses selalu!

Yuk denger disini.

Iklan
0

Via Vallen, Membawa Dangdut Naik Kelas

Ketika lagu Sayang masuk dalam NET. Indonesian Choice Award 5, Via Vallen berhasil membawa genre dangdut naik kelas.

Saya langsung jatuh cinta pada lagu ‘Sayang’ yang dibawakan Via Vallen, ketika pertama kali mendengarnya di sebuah bus pariwisata. Sejak saat itu pula saya mengikuti akun instagramnya dan mendengarkan lagu – lagu lainnya. Lagu tersebut sudah mulai dipopulerkan sejak beberapa tahun yang lalu oleh Via Vallen, sebuah usaha yang akhirnya membuahkan hasil. Tak hanya penikmat dangdut, lagu ini juga berhasil menarik perhatian para penikmat musik diluar genre dangdut. Keberhasilan ini salahsatunya terjadi karena Via rajin menyanyikan ulang lagu pop dan juga lagu yang sedang menjadi pembicaraan publik. Dengan latar belakang pop dan dangdut tersebut, Via berhasil mencuri perhatian lebih banyak dibanding penyanyi dangdut lainnya.

Kevin Indonesian Idol berani untuk membawakan lagu Sayang dalam salahsatu penampilannya di babak spekta. Lagu tersebut di mash up dengan aransemen lagu Ne-Yo yang berjudul So Sick. Sekalipun arasemennya dibuat lebih R&B, tapi nuansa dangdutnya tak bisa disembunyikan. Pada seri terakhir Indonesian Idol Result & Reunion Show, Kevin membawakan ulang lagu ini bersama Via Vallen. Kali ini, aransemen dibuat lebih dangdut dari versi pertama Kevin membawakannya. Hal ini langsung mematahkan pakem Indonesian Idol yang tidak pernah menampilkan genre dangdut dalam acaranya. Dalam sesi tanya jawab, Via mengutarakan bahwa dirinya pernah dua kali mengikuti audisi Indonesian Idol namun belum berhasil masuk dan tak pernah mengira bahwa dirinya bisa tampil di panggung tersebut dengan profesinya sebagai ‘Penyanyi Dangdut’.

Puncak kesuksesan lagu Sayang adalah ketika Via Vallen berhasil tampil dalam Indonesian Choice Award yang diselenggarakan NET. Via Vallen berhasil menggoyang satu studio dengan lagu Sayang yang dibawakan dengan tata panggung yang mewah. Banyak dari penonton acara tersebut adalah artis dan musisi nasional, mereka ikut berjoget dan fasih menyanyikan lagu ini.
Penyanyi dangdut yang sangat akrab dengan VianisTy (fanbase) ini, berhasil membawa dangdut ke level berikutnya. Selamat Via Vallen.

Sebuah tulisan yang didedikasikan untuk idola dangdut saya.

2

#AgaMembacaBuku

Bagaimana bisa tahu kalau tidak mau tahu?

Minatku terhadap membaca bisa dibilang sangat kurang, bahkan tak sampai satu buku per tahun. Hal ini disebabkan kurangnya dorongan untuk lebih tahu akan suatu hal lewat literasi. Senangnya menggali hal – hal yang disukai lewat media yang lebih mudah ditangkap, misalnya lewat layar atau suara.

Akhir – akhir ini mulai menggiatkan kembali membaca karena idola saya Dee Lestari meluncurkan sebuah buku berjudul Aroma Karsa. Lalu mengingat kembali buku – buku ataupun orang – orang yang ada di sekitarku hingga timbul pertanyaan : Kenapa si A bisa tahu hal ini? Kenapa si B bisa menulis seperti ini? Saya mencari jawaban dan ternyata semua itu mereka dapat dari membaca!

Ingatan saya kembali ke masa kuliah dulu sewaktu awal perkuliahan. Dalam masa itu dosen selalu memberi daftar buku yang bisa dijadikan referensi mata kuliah beliau. Namun yng terjadi adalah tak ada satu bukupun yang saya baca. Saya hanya mendapat informasi dari apa yang diajarkan oleh dosen tersebut. Malam ini saya membayangkan jika dosen tersebut hanya mampu menyampaikan kembali tak lebih dari 50% dari apa yang dibacanya. Lalu dari 50% tersebut, berapa persen yang bisa kita serap secara efektif? Tak banyak sepertinya. Maka dari itu, minimal saya harus membaca buku – buku referensi tersebut untuk menyetarakan pengetahuan tentang hal yang sedang dan akan dibahas.

Saya pernah membaca buku ‘Bilang Begini Maksudnya Begitu’ karya Sapardi Djoko Damono yang bercerita tentang cara mengapresiasi puisi. Didalamnya terdapat banyak kutipan puisi dari para penulis terkenal dari berbagai negara. Bagaimana cara Sapardi mengetahui, mengutip dan menafsirkan puisi – puisi didalamnya? Tentu saja dari membaca. Selain itu, beliau juga pandai menulis dengan pilihan kata yang apik.

Ketika kita ditantang untuk menuliskan sebuah cerita yang dialami hari ini, akan tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana cara menerjemahkannya menjadi sebuah tulisan, lantas mau nulis apa? Hasilnya akan sangat berbeda ketika kita tahu bagaimana cara menuliskan cerita tersebut karena pernah membaca tulisan seseorang yang menyampaikan cerita tentang yang dialaminya hari itu. Hal ini terbukti ketika saya mencoba menuliskan apa yang saya inginkan namun hasilnya tak sesuai dengan pa yang saya bayangkan dalam benak sebelumnya. ‘Kok jadi gini ya ceritanya?’

Pada akhirnya saya harus menggiatkan kembali kegiatan membaca ini, harus beberapa kali lebih sering dibanding sebelumnya. Selain untuk menambah pengetahuan, hal ini juga bisa dilakukan untuk mengetahui cara seorang penulis menuliskan sebuah cerita. Saya melakukan ulasan singkat tentang buku yang sudah selesai saya baca dan mengunggahnya di instagram @aga_ridwan dengan tagar #AgaMembacaBuku

.

Sebaris kutipan yang berkesan didapatkan dari sebuah pengalaman yang dituliskan. Tulisan ini saya tutup dengan sebuah kutipan dari penulis favorit saya.

Membaca adalah nutrisi. -Dee-

Mari membaca 🙂

0

Ikut Kelas Menulis Bersama Dee Lestari

Sumber foto : instagram.com/deelestari

Amatir ini beruntung bisa ikut kelas menulis dan bertemu penulis idolanya. Satu –satunya alasan mengikuti kompetisi menulis cerita pendek yang diadakan @storialco karena ingin bertemu Dewi Lestari. Saya menulis cerita pendek selama bulan Januari 2018 sebagai tantangan 30 Hari Bercerita. Saya melakukan proses penyuntingan pada kumpulan cerita tersebut agar menjadi lebih padat, karena hanya diperbolehkan maksimal 1000 kata. Saya belum paham pola menulis, namun saya coba membaginya kedalam tiga bagian, perkenalan, konflik dan penyelesaian. Ada keyakinan tersendiri saat mengirimkan cerpen ini, keyakinan bahwa bisa bertemu idola dalam hal literasi. Alhamdulillah judul cerita saya tercantum dalam pengumuman pemenang enam puluh besar. Lompatan dan teriakan pertanda senang tak terbendung lagi, rasanya tuh kayak ‘Dream comes true’.

‘Bagaimana Saya Menulis’ disampaikan Dee dalam kelas menulis bersama puluhan peserta yang cerpennya lolos seleksi. Sesuai dengan tema, siang itu (01/04/18) Dee berbagi cara memahami ide, membentuk cerita, metode pemetaan, dan tips menulis lainnya. Rasanya seperti balik ke jaman kuliah dan menghadiri kuliah umum yang disenangi. Sepanjang waktu, saya terkagum – kagum dengan penyampaian materi karena memang itu semua yang saya harapkan selama ini. Dee menyampaikan bahwa kita harus bisa berkomitmen kepada ide. Menjaga komitmen kepada ide sama halnya dengan menjaga komitmen terhadap pasangan. Akan ada banyak rintangan yang menghadang, tapi kita harus menghadapinya karena ide akan memilih dia yang mampu berkomitmen, peka, tekun, bertanggung jawab dan memberikan hasil. Tamat adalah target utama karena tujuan ide hanya satu, menjadi konkret. Maka dari itu, kita harus benar – benar menjalin hubungan bersama ide.

Sedikit tips dari kelas menulis siang ini.
*Membaca adalah nutrisi
*Ciptakan ritual menulis rutin, tingkatkan jam terbang
*Jangan takut jelek, takutlah tidak selesai

Terimakasih Storial untuk kesempatannya. Terimakasih Dee sudah berbagi dan menjadi inspirasiku.

Bonus foto bareng hehe :p

1

Nyit – Nyit Club : Sequel #30HariBercerita

Nyit – Nyit Club adalah sebuah kelompok kecil yang terbentuk saat meet up #30HariBercerita di Jakarta beberapa pekan lalu. Nama itu diambil dari tokoh fiktif yang muncul saat kami melakukan tantangan cerita berantai dalam satu kelompok yang sama. Beranggotakan @aga_ridwan @ejie_belula @robiaawiya @sucilarassaty & @tulis_in , kami berlima memutuskan untuk melakukan pertemuan lanjutan di sebuah kedai yang bisa menjangkau posisi kami semua. Atas kesepakatan, Ropisbak Tebet jadi pilihan untuk bersua. Terlebih saya pribadi belum pernah menginjakkan kaki di Tebet sebelumnya. Ini jadi kesempatan menarik untuk menginjakkan kaki di sisi lain Jakarta.

Foto : Aga Ridwan

Saya percaya, orang yang berjiwa kreatif jika dikumpulkan dalam satu acara, bisa menghasilkan sesuatu yang menarik. Ngobrol santai jadi agenda utama kami sore itu, membahas apa yang ditulis selama mengikuti #30HBC, membahas latar belakang masing – masing, dan membahas apa yang bisa kami buat dengan club kecil ini.

Foto oleh : @robiaawiya

Saya sangat menyukai proses kreatif, dari proses ini bisa muncul ide – ide yang selama ini terpendam. Metode brainstorming digunakan untuk mengeluarkan semua potensi yang ada dalam diri tanpa melakukan pembatasan terlebih dahulu. Masing – masing dari kami mengungkapkan apa menjadi sebuah karya, mengeluarkan keresahan dan mengubahnya menjadi karya. Pertemuan ini menelurkan sebuah ide yang kemudian akan ditetaskan. Kami ingin menulis dengan kata kunci ‘Pencarian’ sebagai tema utama. Beragam pencarian bisa dituliskan, mulai dari pencarian jati diri, filosofi hidup, ketenangan, sampai pencarian belahan jiwapun bisa diceritakan.

Foto oleh : @robiaawiya

Nantinya tulisan kami akan dimuat dalam satu blog yang bisa kamu kunjungi dan kamu nikmati. Konsepnya setiap orang bercerita dengan ciri khas masing – masing dan akan di update setiap minggu hingga tuntas. Total ada lima cerita dengan sudut pandang berbeda. Mau tahu? Penasaran? Sama, saya juga. Do’akan semoga kami tetap istiqomah dalam menjalani project ini. Aamiin.
.
Semangat kawan 🙋‍♂️

.

Yang mau tanya – tanya juga boleh 😉

6

Ikut Meet up 30HariBercerita cabang Jakarta

20180218_160440

Foto : Aga Ridwan

Event #30HariBercerita sesi ketiga selama Januari 2018 telah tuntas. Namun belum dengan kerinduan. Masih ada rindu yang belum tuntas, kerinduan akan pertemuan antar para pencerita. Di tahun ini, saya berkesempatan untuk hadir dalam kopi darat yang diadakan oleh para penggagas @30haribercerita . Jakarta, Bandung, Surabaya dan Jogjakarta adalah titik temu yang dirasa bisa mengakomodir kerinduan para pencerita. Beberapa kota lain bisa merapatkan barisan pada salah satu kota terdekat. Dari empat titik temu, saya memilih Jakarta sebagai tempat untuk bertemu dengan teman – teman karena lebih dekat dengan posisi saya yang berada di Bekasi.

Foto : Aga Ridwan

Sore yang cerah di Cikini memang cocok buat bercengkerama bersama teman baru. Bertempat di Taman Ismail Marzuki, kurang lebih empat puluh lima orang siap berbagi pengalaman masing – masing dalam mengikuti event 30HariBercerita. Diawali oleh Gladhys, cerita bersambung kepada teman lain yang suratnya dibacakan. Orang yang suratnya dibacakan, harus bercerita mengenai diri sendiri dan juga kesan ikut program ini. Sekitar sepuluh surat berhasil dibacakan, sisanya dibagi secara acak karena waktu yang cukup terbatas. Beruntungnya, surat saya terpilih untuk dibacakan oleh salah satu peserta @ninuksawitri. Begini isi tulisan ‘Salam’nya:

Hai semuanya! Selamat sore,

Perkenalkan, saya Ridwan Nugraha, biasa dipanggil Aga. Tinggal di Bandung, kerja di Bekasi, dan sekarang lagi main ke Cikini. Cikini (dan nanti) adalah tempat favoritku buat nonton film di bioskop Metropole deket stasiun. Bangunannya asik, tempatnya nyaman dan banyak kenangan, eh~ haha.

Ini kali pertama lagi saya ikut meet up dengan satu komunitas. Dua tahun saya absen ikut kegiatan seperti ini karena belum bertemu dengan satu komunitas yg cocok di Bekasi. Dunia (duo) Maya telah membawaku pada 30HariBercerita, hingga hari ini ada disini. Beberapa teman ada yang saya kenal dari komunitas berkirim kartupos, dari blog, ataupun teman di lingkungan sekitar. Kebanyakan, baru saya kenal di program ini.

Saya suka musik, foto dan film. Awalnya kegiatan menulis bukan menjadi favorit saya, karena saya termasuk manusia yang jarang sekali membaca buku dan gak pernah kepikiran buat nulis – nulis. Sampai pada akhirnya, karya Dewi Lestari berhasil menggugah minat saya untuk membaca dan menulis. Lewat 30HariBercerita, saya bisa menuangkan apa yang saya ingin ceritakan, karena saya tidak terbiasa untuk berbagi cerita secara langsung. Saya lebih senang bercerita lewat aksara. Rasanya kegiatan menulis ini menjadi favoritku sampai saat ini.

Salam,

Aga Ridwan.

Ilustrasi. Foto : Aga Ridwan

Acara berlanjut pada tulisan berantai. Tulisan berantai adalah sebuah tulisan yang dibuat dengan cara meneruskan cerita dari paragraf yang ditulis oleh orang sebelumnya. Total ada sembilan kelompok yang masing – masingnya berisi lima orang. Saya (@aga_ridwan) berkelompok bersama @tulis_in @ejie_belula @robiaawiya dan @sucilarassaty. Cerita ini berisi awalan kata ‘Pergi ke …’ dan selanjutnya diisi oleh kami berlima secara berantai. Begini isi suratnya :

Pergi ke negeri Pluto. Penuh sesak, debu dan selalu saja tersesat. Aku tak pernah bisa menghapal jalan, petunjuk yang diberikan kerap tak sampai pada otakku yang out of the box. Nyasar!

Namaku Nyit-nyit….. Aneh sih, itu pemberian orangtuaku. Aku suka perjalanan walau kadang lelah, tersesat, dan lupa jalan pulang. Walaupun aku lupa jalan pulang, beruntung ibu bapak masih menerima sebagai anak, hahaha.

Aku suka sekali sendirian, main gitar diatas pohon, pergi ke tempat baru, dan semuanya sendirian. Tidak, bukan berarti aku tidak suka keramaian. Tapi, sendiri aku, bisa jadi diri sendiri. Hei jangan salah, aku punya banyak banyaaaaaak sekali teman. Mereka asik, suka sekali bercanda, haha.

Dengan sendiri, aku bisa bertemu dengan canda pohon dan rerumputan. Bisa menyapa hujan dan rimbun hutan. Sendiri memang menyenangkan.

Pernah satu kali nyasar ke satu kota yang dijuluki kota kembang. Disana aku bertemu Dilan, Dilan yang saat ini lagi tenar di Indonesia. Aku ajak Dilan main ke negeri Pluto, sebenernya modus buat dianterin nyari jalan pulang pakai motor kerennya. DItengah jalan, aku dicegat Milea, dia bilang “Jangan pergi Dilan, nanti aku rindu.” Rindu itu berat, rinso itu menyenangkan buat nyuci.

Nyit-nyit Club. (kiri ke kanan) Robiatul, Suci, Ejie, Aga, Arista. Foto : @ockirio

Meet up kali ini membawa kesegaran tersendiri untukku. Senang bisa merasakan ‘rasa’ komunitas kembali. Sharing mengenai hal yang sama – sama kita suka, sharing mengenai pengalaman selama kita menjalani program ini, sampai sharing mengenai kesukaan masing – masing diluar program ini. Seperti ada nyawa baru yang masuk kedalam diri, saya merasa hidup kembali. Terimakasih teman – teman 30HariBercerita, senang berjumpa dengan kalian.

IMG-20180218-WA0010

Foto : @ockirio

Sebuah catatan yang ditulis saat perjalanan pulang diatas kereta, dari stasiun Cikini ke stasiun Bekasi.

0

Surat Untuk Februari Vol. 3 – 2018

Berawal dari ajakan Cemara, teman yang kukenal lewat komunitas Card to post, aku ikut menuliskan sebuah surat di bulan Februari 2018. Acara ini digagas oleh komunitas Pecandu Buku yang bekerjasama dengan Eiger. Dalam event ini, kita diharuskan menulis sebuah surat yang ditujukan kepada diri sendiri sebagai tantangan yang diberikan.

Saya mencoba menuliskan surat mengenai

Baca lebih lanjut